Monday, 29 May 2017

Indonesia ikut serta dalam Kegiatan Asian Youth Forum ke-5 & ADB Annual Meeting ke-50

5

Asian Youth Forum dan ADB Annual Meeting merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh ADB sebagai bagian dari sarana pembelajaran praktis bagi para pemuda dan stakeholders ADB terkait program pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan di wilayah Asia Pasifik. Tujuan keikutsertaan Indonesia dalam kegiatan ini diantaranya, Meningkatkan pemahaman mengenai Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai agenda global dalam upaya pengentasan kemiskinan di seluruh negara, Meningkatkan kapasitas mengenai manajemen proyek ADB melalui metode Design Monitoring Framework (DMF) dan Menjalin networking dengan partisipan dari negara lain.

5th Asian Youth Forum (AYF5) merupakan Forum Pemuda Asia ke-5 yang dilaksanakan pada Tanggal 2 s.d 7 Mei 2017 dan diikuti oleh 150 partisipan pemuda yang berasal dari 30 Negara Asia Pasifik. Peserta Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yang ikut menghadiri acara tersebut diantranya Imam Fitrianto,  dan Nisaul Makhmudah, dengan sumber pembiayaan dari ADB RETA 7813.

5th Asian Youth Forum (AYF5) kali ini bertema “Youth for Prosperity of Asia and the Pacific” yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pemuda mengenai permasalahan pembangunan di negara berkembang, mengenali peluang kontribusi pemuda sebagai mitra pembangunan dalam mencapai SDGs dan melibatkan pemuda dalam Proyek ADB melalui kontribusi inovasi dan solusi efektif untuk mendukung Proyek ADB yang sedang dan akan berlangsung, serta meningkatkan komitmen stakeholders ADB untuk melibatkan pemuda dalam mencapai tujuan kesejahteraan di wilayah Asia Pasifik.

Pada sesi 50th ADB Annual Meeting yang diselenggarakan pada tanggal 4 s.d 7 Mei 2017 dengan mengangkat tema “Building Together the Prosperity of Asia” dan diikuti oleh 3500 partisipan yang mewakili Lembaga Pemerintah, Lembaga Pembangunan dan Keuangan Non Pemerintah, Perusahaan Swasta, Organisasi Masyarakat dan Media dari berbagai negara. Adapun beberapa topik seminar yang disampaikan antara lain:

  1. Governor’s seminar: Lesson from 50 Years of Asian Development and Implication for The Future. Sesi ini membahas performansi pertumbuhan ekonomi Asia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir yang mengindikasikan signifikannya penurunan angka kemiskinan dan peningkatan taraf hidup masyarakat Asia. Salah satu keynote speaker, Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan RI dan Gubernur ADB untuk Indonesia) menyampaikan bahwa kedepannya teknologi akan menghapus border antar negara, untuk itu dalam rangka menyambut kompetisi pasar bebas dunia, masyarakat Asia perlu membekali diri dengan kemampuan bahasa asing, penguasaan teknologi dan sertifikasi keahlian.
  2. Social Inclusivity in the Age of Properity: The Case of Asia and Pacific Youth. Seminar ini mengangkat isu mengenai pentingnya pelibatan pemuda dalam pembangunan. Untuk mereduksi gap pengalaman antara pemuda dan pemerintah, maka pemerintah perlu melakukan pendekatan melalui pemberdayaan (peningkatan kapasitas pemuda melalui training) dan pendampingan (diskusi dan konsultasi) untuk kemudian dapat memberikan kesempatan pemuda untuk terlibat dalam teknis program pembangunan.
  3. Advancing Women’s Leadership in the Coral Triangle. Dalam sesi ini 5 (lima) narasumber menyampaikan tentang kiprah wanita dalam pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di area Coral Triangle. Salah satu kiprah wanita pesisir yang diangkat adalah Martha Lotang (penerimah anugerah Coastal Award KKP dan Woman Leaderhip Award CTI-CFF) sebagai penggerak konservasi mangrove di Alor.

Adapun hasil dari serangkaian acara tersebut diharapkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri dari 17 tujuan global yang saling terkait satu dengan lainnya (interconnected goals). Indonesia (melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan) sebagai anggota CTI-CFF terlibat langsung dalam mencapai tujuan pelestarian kehidupan bawah laut (life below water) yang secara simultan juga mendukung tujuan pengentasan kemiskinan (no poverty), pengentasan kelaparan (no hungry) dan adaptasi perubahan iklim (climate action) bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil dan Pemerintah dan Lembaga non Pemerintah perlu berkomitmen dalam melibatkan pemuda sebagai mitra pembangunan. Dengan potensi yang dimiliki, pemuda dapat berkontribusi aktif sebagai eksekutor program pembangunan, pendamping masyarakat, dan agen penyadaran masyarakat. Pelibatan pemuda dalam teknis program pembangunan merupakan investasi berharga sebagai bekal pemuda agar siap menjadi agen penerus pembangunan di masa depan.