peta-CTI

Latar Belakang

Kekayaan Sumber Daya Hayati Laut Di Kawasan Coral Triangle

Para ilmuwan telah mengidentifkasi sebuah kawasan Coral Triangle (CT) di wilayah Indo-Pasifik. Ruang lingkup kawasan ini ditetapkan berdasarkan pada kriteria bahwa adanya penemuan lebih dari 500 jenis karang di dalam wilayah perairannya. Kawasan yang berbentuk segitiga ini mencakupi seluruh atau sebagian dari wilayah zona ekonomi eksklusif enam negara: Indonesia (bagian tengah dan timur), Timor Leste, Philippines, Malaysia (Sabah), Papua New Guinea, dan Kepulauan Solomon. CT, sering juga disebut sebagai “Amazonnya Lautan” merupakan pusat keanekaragaman dan kelimpahan kehidupan laut di planet bumi. Di beberapa lokasi, CT memiliki:

  • Lebih dari 75% jenis karang yang telah diketahui;
  • 53% terumbu karang dunia;
  • Lebih dari 3,000 jenis ikan,
  • Sebaran hutan bakau terbesar di dunia.
  • CT menyediakan tempat pemijahan dan perkembang biakan bagi ikan tuna yang menyediakan bahan baku bagi salah satu industri perikanan tuna terbesar dunia.

Manfaat Sumberdaya Hayati Laut Dan Pesisir Coral Triangle Bagi Umat Manusia

Sumberdaya hayati CT secara langsung menopang kehidupan lebih dari 120 juta orang yang tinggal di kawasan ini serta memberikan manfaat bagi jutaan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Utamanya, manfaat sumberdaya hayati tersebut bagi umat manusia meliputi:

  • Menopang mata pencaharian, pendapatan, dan ketahanan pangan — khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang garis pantai negara-negara Coral Triangle.
  • Lokasi pemijahan dan perkembang biakan tuna yang menopang industri perikanan tuna yang multi-milyar dan menyediakan ikan tuna bagi jutaan konsumer di segala penjuru dunia.
  • Sumberdaya laut yang sehat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan industri pariwisata alam di kawasan CT (seperti usaha selam, transportasi udara, hotel dan restoran)
  • Ekosistem terumbu karang dan bakau yang sehat dapat melindungi masyarakat pesisir dari badai dan tsunami, sehingga mengurangi biaya rekonstruksi di masa yang akan datang dan kebutuhan bantuan internasional.

Tantangan Sumberdaya Hayati Laut Dan Pesisir

Sumberdaya hayati laut CT berada dalam ancaman yang bersumber dari: penangkapan ikan berlebih (overfishing), penangkapan ikan secara destruktif, polusi dan perubahan iklim. Coral Triangle Initiative (CTI). Sebagai bagian dari sebuah pendekatan yang menyeluruh terhadap ancaman perubahan iklim. Beberapa fakta antara lain:

  • Perikanan di wilayah Coral Triangle sudah mengalami over-eksploitasi. Biomass dapat memberikan gambaran mengenai jumlah dan ukuran stok ikan. Untu beberapa jenin ikan komersial tertentu diperkirakan telah mengalami penurunan sekitar 90% dibandingkan dengan kondisi 40 tahun yang lalu, sebelum adanya modernisasi armada kapal penangkapan ikan.
  • Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan racun dan bahan peledak masih sering digunakan, bahkan di beberapa daerah jumlahnya telah mengalami peningkatan.
  • Lebih dari 89% terumbu karang di kawasan asia tenggara diperkirakan berada dalam kondisi sangat rentan terhadap beberapa gangguan.
  • Hanya 6% dari total luas “nearshore” dan “continental shelf” di kawasan segitiga terumbu karang berada dalam status dilindungi.

Kebutuhan untuk Inisiatif baru Coral Triangle

Beberapa gambaran umum di atas dapat dijadikan sebagai bahan acuan akan pentingnya kerjasama di bidang pengelolaan terumbu karang, terutama bagi seluruh komunitas masyarakat yang hidup di daerah pesisir dan menggantungkan hidupnya kepada keberadaan terumbu karang di kawasan segitiga tersebut. Kerjasama ini bukan hanya pada level Indonesia (nasional) namun juga diperlukan kerjasama regional terutama diantara negara-negara yang terletak di lawasan setiga terumbu karang (CT6). Hal tersebut akan menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat hal-hal sebagai berikut:

  • Ancaman-ancaman regional. Banyak dari ancaman-ancaman yang timbul di kawasan segitiga ini berada di kawasan regional CT6, sehingga untuk memecahkan masalah yang timbul tersebut diperlukan kerjasama diantara CT6. Contohnya adalah kegiatan perdagangan ikan karang hias hidup; IUU perikanan lintas batas CT6 dan dampak perubahan iklim.
  • Migrasi Spesies (ikan tuna, penyu dan mamalia laut) yang melintasi batas negara dan memasuki wilayah perairan negara lain, sehingga diperlukan pengelolaan antar CT6.
  • Mekanisme pendanaan tingkat regional. Diperlukan kerjasama diantara CT6 untuk mengelola mekanisme pendanaan pada tingkat regional.
  • Dukungan donor dari luar CT6. Kerjasama multilateral diantara CT6 akan memberikan daya tarik kepada donor diluar CT6 untuk memberikan bantuan pendanaan kegiatan CTI.
  • Pendekatan dalam bidang perdagangan. CT6 dapat bekerja bersama dalam satu buah grup yang bertujuan untuk meningkatkan perdagangan komunitas perikanan CT6 (tuna, udang, ikan karang hidup) yang dapat memberikan keuntungan jangka pendek maupun jangka panjang bagi CT6.